Jom FoLLow MeMoLow..

Monday, July 11, 2011

FaKtor KeJaYaan OraNg JePun...



1. Kerja Keras
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bangsa Jepun adalah pekerja keras.
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepun adalah 2450 jam/tahun,
sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun),
Britain (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pekerja di Jepun boleh menghasilkan sebuah kereta dalam 9 hari,
sedangkan pekerja di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat kereta
yang bernilai sama.

Seorang pekerja Jepun boleh dikatakan boleh melakukan pekerjaan yang biasanya
dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepun,
dan menandakan bahwa pekerja tersebut termasuk “yang tidak diperlukan” oleh majikan.



2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut)
menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran.

Masuk ke dunia moden, caranya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para atasan (menteri, ahli politik, dsb)
yang terlibat masalah rasuah atau merasa gagal menjalankan tugasnya.

Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak Smk, SMk yang -kadang-kadang membunuh diri,
karana gagal atau disebabkan kalah dalam persaingan.

Karana malu jugalah, orang Jepun lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di
belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap sikap apabila mereka
melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.



3. Hidup Berhemat

Orang Jepun memiliki semangat hidup berhemat dalam kehidupan seharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan
ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.

Di masa awal mulai kehidupan di Jepun, mungkin kita sedikit hairan dengan banyaknya orang Jepun
ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.

Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahawa supermarket di Jepun akan memotong
harga sampai separuh pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket
di Jepun rata-rata tutup pada pukul 20:00.



4. Loyality

Loyality membuat sistem karier di sebuah perniagaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeza dengan
sistem di Amerika dan Eropah, sangat jarang orang Jepun yang berpindah-pindah pekerjaan.

Mereka biasanya bertahan di satu atau dua tempat pekerjaan sampai pencen. Ini mungkin implikasi dari Industri
di Jepun yang kebanyakan hanya mahu menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri
sesuai dengan bidang perniagaan (core business) syariakt.



5. Inovasi

Jepun bukan bangsa penemuan, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam mengubah penemuan orang lain dan kemudian
memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.

Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman. Cassete Tape bukan
diasaskan oleh Sony, ia dimiliki oleh syariakt Phillip Electronics.

Tapi yang berjaya mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan
tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu.

Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman dihasilkan dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepun, ianya dimiliki orang Amerika. Tapi
ternyata Jepun dengan inovasinya boleh mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.



6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepun termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah.
Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepun sangatlah mundur dalam teknologi.

Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepun cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.
Kemiskinan sumber alam juga tidak membuat Jepun menyerah.

Tidak hanya menjadi pengimport minyak, arang batu, bijih besi dan kayu, bahkan 85% sumber kuasa
Jepun berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Khabarnya kalau Indonesia menghentikan eksport minyak,
maka 30% wilayah Jepun akan bergelap.

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ,
disusul dengan kalah perangnya Jepun, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepun masih bangkit.

Dalam beberapa tahun berikutnya Jepun sudah berjaya membangunkan industri outomotif dan bahkan juga keretapi (shinkansen) .

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya gagal dan hampir tersingkir dari bisnes
peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga
menjadi kerajaan bisnes di era berikutnya.

Akio Morita juga awalnya menjadi bahan ketawa ketika menawarkan produk Cassete Tapenya
ke pelbagai negara lain. Tapi akhirnya menjadi lagenda dengan Sony Walkman-nya.

Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepun dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).



7. Budaya membaca

Jangan terkejut kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (mcm komuter kot), sebagian besar
penumpangnya baik kanak-kanak mahupun dewasa sedang membaca buku.

Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak
penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk kurikulum sekolah baik sekolah menengah atau rendah

Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.
Budaya baca orang Jepun juga didorong oleh kepantasan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggeris, perancis, jerman, dsb).

khabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring membangunnya institute
penerjemahan dan terus berkembang sampai zaman moden. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepun sudah tersedia dalam
beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.



8. Kerjasama Kumpulan

Budaya di Jepun tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.
Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk team atau kumpulan tersebut.

Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu,
mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kumpulan.

Kerja dalam kumpulan mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepun. Ada pepatah mangatakan bahawa
“1 orang professor Jepun akan kalah dengan satu seorang professor Amerika, namun 10 orang professor
Amerika tidak akan boleh mengalahkan 10 orang professor Jepun yang berkumpulan”.

Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kumpulan.
Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.



9. Berdikari

Sejak usia muda anak-anak dilatih untuk berdikari. Bahkan seorang anak tadika sudah harus membawa 3 beg besar berisi pakaian ganti,
bento (bungkusan bekal), kasut/selipar ganti, buku-buku dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.

Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa kelengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Lepas sekolah menengah dan masuk kolej hampir sebahagian besar tidak meminta duit biaya kolej kepada orang tua.

Biasanya mereka melakukan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan seharian. Kalaupun kehabisan wang, mereka
“meminjam” wang dari orang tuanya dan harus dibayar pada bulan berikutnya.



10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepun meminggirkan tradisi dan budayanya.
Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan kekal sehingga hari ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik basikal di Jepun
dan terlanggar pejalan kaki, maka jangan panik malah meminta maaf dengan cepat.

Sehingga ke hari ini relatif menghindari berkata “tidak” apabila mendapat tawaran dari orang lain.
Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepun karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang.

Pertanian merupakan tradisi temurun dan aset penting di Jepun. Persaingan sengit kerana masuknya beras
Thailand dan Amerika yang murah, tidak mengundurkan langkah kerajaan jepun untuk melindungi para petaninya.

Kabarnya tanah yang dijadikan kawasan pertanian mendapatkan pengurangan cukai yang signifikan,
termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.
Pertanian Jepun merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.



Related Articles by Categories


0 comments:

Post a Comment

Post a Comment

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Grab this Widget ~ Blogger Accessories